Renungan 6 (Selasa, 23 Februari 2016)
PENGAKUAN
EMANG….
AKU PERNAH MENGAJAK REMBULAN
TUK BERBUAT DOSA DI ATAS AWAN
BERANJANGKAN EMAS KAYANGAN
BIDADARI PUN PENASARAN
EMANG…
AKU PERNAH TINGGAL DI HUTAN
BERSAHABAT SINGA DAN MACAM
MEMAKAI JUBAH KESOMBONGAN
TAPI…
AKU MASIH PUNYA HATI TUK BER-NURANI
PUNYA RASA TUK BERCINTA
PUNYA EMOSI TUK BERILUSI
BIARLAH MASA LALU MENJADI SAKSI BISU
MASA SILAM JADI TRAUMA HITAM
YANG TIDAK PERNAH BERPUTAR DALAM RODA ZAMAN
AKU INGIN JADI JIWAKU
BERCINTA, BERCANDA, BERMESRA
TAPI BUKAN UNTUK MU
HANYA UNTUKKU DAN DIA
Selasa, 23 Februari 2016
Senin, 22 Februari 2016
puisi "Kebimbangan"
Renungan 5 (Senin, 22 Februari 2016)
KEBIMBANGAN
HASRAT DI HATI DAN KESEDIHAN
BERBAUR DALAM KEINGINAN
RASA SAYANG DAN KEBIMBANGAN
BERTABUR DALAM KESEDIHAN
MUNGKINKAH ITU TERJADI..?
ATAU HANYA SEBUAH MIMPI
OH…TIDAK…
ITU HANYA SEBUAH TEKA-TEKI
BERSILANG ASA DAN MISTERI
OH…TIDAK….
ITU KETETAPAN ILAHI TAK PERLU DI USUT LAGI
MAU BERTANYA..?
PADA SIAPA
APA PADA RUMPUT YANG TIDAK BERGOYANG LAGI?
ATAU PADA BINTANG YANG TAK PEDULI?
ANGINPUN ENGGAN TUK MENGASIHI
KEBIMBANGAN INI MAKIN MENJADI
DALAM SANUBARI SEORANG PEMIMPI…
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
KEBIMBANGAN
HASRAT DI HATI DAN KESEDIHAN
BERBAUR DALAM KEINGINAN
RASA SAYANG DAN KEBIMBANGAN
BERTABUR DALAM KESEDIHAN
MUNGKINKAH ITU TERJADI..?
ATAU HANYA SEBUAH MIMPI
OH…TIDAK…
ITU HANYA SEBUAH TEKA-TEKI
BERSILANG ASA DAN MISTERI
OH…TIDAK….
ITU KETETAPAN ILAHI TAK PERLU DI USUT LAGI
MAU BERTANYA..?
PADA SIAPA
APA PADA RUMPUT YANG TIDAK BERGOYANG LAGI?
ATAU PADA BINTANG YANG TAK PEDULI?
ANGINPUN ENGGAN TUK MENGASIHI
KEBIMBANGAN INI MAKIN MENJADI
DALAM SANUBARI SEORANG PEMIMPI…
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Mereka atau kalian yang Miskin?
Renungan 4 (Minggu, 21 Februari 2016)
Mereka atau kalian yang Miskin?
Sebagai perumpamaan, Khalifah Umar bin al-Khattab yang selaku pemimpin umat waktu itu, ketika menyamar di malam hari untuk mengetahui kondisi rakyatnya, dia menemukan sebuah keluarga yang miskin dalam kelaparan, beliau sendiri yang memanggul sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga itu. Karena Pemerintah yang senantiasa memelihara rakyatnya tidak akan bersenang-senang dan hidup mewah dengan uang rakyat. Sedangkan rakyatnya dalam kelaparan dan penderitaan. Kita tahu bahwa khalifah Umar bin Abdul aziz, ketika dia diangkat menjadi khalifah dia menangis dan bersedih, dan ketika didatangkan kepada beliau kendaraan (unta) yang khusus untuk khalifah. Beliau menolak seraya memerintahkan untuk menjualnya dan hasilnya dimasukkan ke kas Baitul Mal untuk kemaslahatan rakyat yang membutuhkannya (dalam kitab Tarikh al-Khulafa' lil imam As-syuyuthi).
Beda halnya dengan bangsa indonesia, yang konon katanya gemah limpah loh jenawi ini, sekarang tak lebih hanya hisapan jempol belaka. Mulai dari pejabat legislatif, eksekutif , yudikatif sampai pada kaum elitnya semuanya berlomba-lomba mengusulkan kenaikan gaji. Bahkan tidak malu-malunya melakukan KKN, Tanpa memikirkan kaum alitnya; berapa banyak anak-anak jadi pengamen dan putus sekolah, berapa banyak kemiskinan yang menjerat dan menghimpit kehidupan rakyatnya. Sehingga ada kata-kata yang kaya makin bangga dan membusungkan dada dan yang miskin makin miskin dan membusung lapar.
Kemiskinan dan kekayaan pada dasarnya sama dalam pengertian kedua-duanya merupakan batu ujian dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya tidak ada seorang yang dilahirkan kaya atau miskin. Kedua hal itu baru timbul melalui serentetan sebab-musabab. Tidak jarang orang yang lahir ditengah-tengah keluarga yang miskin ditengah pertumbuhannya dia menjadi kaya. Begitu juga tidak jarang orang yang lahir ditengah keluarga yang kaya dalam pertumbuhannya menjadi miskin.
Sebenarnya terdapat petunjuk sebab kemiskinan dari sebuah do'a nabi yang diriwayatkan oleh Anas bin malik yang berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Ya Allah aku mohon lindungilah aku dari kebingungan, kesusahan, kelemahan, kemalasan, kepelitan, ketindihan hutang, dan diperas kuasai oleh sesama manusia
Dalam do'a diatas mengandung hal pokok yang menyebabkan kemiskinan yang memelaratkan dan menyusahkan.
Pertama: Kelemahan; kelemahan hati dan semangat, kelemahan akal dan ilmu atau kelemahan fisik yang semua itu mengurangi daya pilih dan daya upaya manusia untuk berusaha di dunia. Sebagaimana Hadist:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah
Kedua:Kemalasan; tidak diragukan lagi sifat ini merupakan pangkal dari kemiskinan. Karena penataan kehidupan sehari-hari dalam Islam sangat bertentangan dengan hal ini.
Ketiga:Ketakutan; hal ini jelas merupakan penghambat utama untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan khususnya dalam pekerjaan dan usaha. Karena pekerjaan atau tugas banyak tergantung dari keberanian untuk menghadapinya
Keempat: Kepelitan; hal ini banyak besangkutan dengan sikaya, karena dengan sifat ini membantu untuk tidak mengurangi kemiskinan. Dan mnempatkan dirinya untuk dibenci manusia. Katanya imam Sufyan: اي داء ادوء من البخل "penyakit apa yang lebih sangat daripada pelit"
Kelima:Tertindih hutang; karena hutang sangat membelenggu kebebasan hak didunia dan akhirat. Apalagi orang yang sudah terbiasa dengan membiayai hidupnya dengan utang-utang akan sulit sekali mengangkatnya dari lumpur kemiskinan
Keenam: diperas atau dikuasai sesama manusia; hal ini merupakan penyebab timbulnya banyak penderitaan dan kemelaratan. Pemerasan manusia kuat menimbulkan sistem perbudakan, pemerasan manusia kaya menimbulkan sistem riba, dan pemerasan pada masyarakat dan bangsa dapat menimbulkan sistem kapitalisme yang akan bekembang menjadi emperialisme.
M au
I ndah
S uka
K kn
I ngkar
N abi
Miskin sebenarnya adalah miskin Iman dan Taqwa.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Mereka atau kalian yang Miskin?
Sebagai perumpamaan, Khalifah Umar bin al-Khattab yang selaku pemimpin umat waktu itu, ketika menyamar di malam hari untuk mengetahui kondisi rakyatnya, dia menemukan sebuah keluarga yang miskin dalam kelaparan, beliau sendiri yang memanggul sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga itu. Karena Pemerintah yang senantiasa memelihara rakyatnya tidak akan bersenang-senang dan hidup mewah dengan uang rakyat. Sedangkan rakyatnya dalam kelaparan dan penderitaan. Kita tahu bahwa khalifah Umar bin Abdul aziz, ketika dia diangkat menjadi khalifah dia menangis dan bersedih, dan ketika didatangkan kepada beliau kendaraan (unta) yang khusus untuk khalifah. Beliau menolak seraya memerintahkan untuk menjualnya dan hasilnya dimasukkan ke kas Baitul Mal untuk kemaslahatan rakyat yang membutuhkannya (dalam kitab Tarikh al-Khulafa' lil imam As-syuyuthi).
Beda halnya dengan bangsa indonesia, yang konon katanya gemah limpah loh jenawi ini, sekarang tak lebih hanya hisapan jempol belaka. Mulai dari pejabat legislatif, eksekutif , yudikatif sampai pada kaum elitnya semuanya berlomba-lomba mengusulkan kenaikan gaji. Bahkan tidak malu-malunya melakukan KKN, Tanpa memikirkan kaum alitnya; berapa banyak anak-anak jadi pengamen dan putus sekolah, berapa banyak kemiskinan yang menjerat dan menghimpit kehidupan rakyatnya. Sehingga ada kata-kata yang kaya makin bangga dan membusungkan dada dan yang miskin makin miskin dan membusung lapar.
Kemiskinan dan kekayaan pada dasarnya sama dalam pengertian kedua-duanya merupakan batu ujian dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya tidak ada seorang yang dilahirkan kaya atau miskin. Kedua hal itu baru timbul melalui serentetan sebab-musabab. Tidak jarang orang yang lahir ditengah-tengah keluarga yang miskin ditengah pertumbuhannya dia menjadi kaya. Begitu juga tidak jarang orang yang lahir ditengah keluarga yang kaya dalam pertumbuhannya menjadi miskin.
Sebenarnya terdapat petunjuk sebab kemiskinan dari sebuah do'a nabi yang diriwayatkan oleh Anas bin malik yang berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Ya Allah aku mohon lindungilah aku dari kebingungan, kesusahan, kelemahan, kemalasan, kepelitan, ketindihan hutang, dan diperas kuasai oleh sesama manusia
Dalam do'a diatas mengandung hal pokok yang menyebabkan kemiskinan yang memelaratkan dan menyusahkan.
Pertama: Kelemahan; kelemahan hati dan semangat, kelemahan akal dan ilmu atau kelemahan fisik yang semua itu mengurangi daya pilih dan daya upaya manusia untuk berusaha di dunia. Sebagaimana Hadist:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah
Kedua:Kemalasan; tidak diragukan lagi sifat ini merupakan pangkal dari kemiskinan. Karena penataan kehidupan sehari-hari dalam Islam sangat bertentangan dengan hal ini.
Ketiga:Ketakutan; hal ini jelas merupakan penghambat utama untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan khususnya dalam pekerjaan dan usaha. Karena pekerjaan atau tugas banyak tergantung dari keberanian untuk menghadapinya
Keempat: Kepelitan; hal ini banyak besangkutan dengan sikaya, karena dengan sifat ini membantu untuk tidak mengurangi kemiskinan. Dan mnempatkan dirinya untuk dibenci manusia. Katanya imam Sufyan: اي داء ادوء من البخل "penyakit apa yang lebih sangat daripada pelit"
Kelima:Tertindih hutang; karena hutang sangat membelenggu kebebasan hak didunia dan akhirat. Apalagi orang yang sudah terbiasa dengan membiayai hidupnya dengan utang-utang akan sulit sekali mengangkatnya dari lumpur kemiskinan
Keenam: diperas atau dikuasai sesama manusia; hal ini merupakan penyebab timbulnya banyak penderitaan dan kemelaratan. Pemerasan manusia kuat menimbulkan sistem perbudakan, pemerasan manusia kaya menimbulkan sistem riba, dan pemerasan pada masyarakat dan bangsa dapat menimbulkan sistem kapitalisme yang akan bekembang menjadi emperialisme.
M au
I ndah
S uka
K kn
I ngkar
N abi
Miskin sebenarnya adalah miskin Iman dan Taqwa.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Puisi "Angan atau kenyataan"
Renungan 3/ edisi puisi (Sabtu, 20 Februari 2016)
ANGAN ATAU KENYATAAN
RASANYA….
AKU BERADA DALAM GELAP
PEKAT, SUNYI SEPI, HENING PENUH MISTERI
KU MENOLEH KE KANAN
TAK SECERCAH CAHAYA YANG TAMPAK
KU MENOLEH KE KIRI
TAK SEORANGPUN MENYAPA…
AKU BAGAI MUSAFIR ASING
YANG BERDIRI TEGAK DENGAN SATU KAKI
HARUSKAH AKU KEMBALI?
SUDAH JAUH KAKI MELANGKAH
ATAU KU TEROBOS JALAN BUNTU ITU…
ENTAH….
AKU BINGUNG DALAM KESUNYIAN
AKU BIMBANG DALAM KERAMAIAN
RASANYA INGIN KU TETESKAN AIR MATA
DI PANGKUAN SAMUDERA
BERTUMPU HARAP, BUKAN MEREKAYASA
TUHAN ………
HARUSKAH ENGKAU SIRNAKAN HAMBAMU INI
TANPA EKSPRESI DAN KATA-KATA
HARUSKAH AKU JADI LAKON TUA DI PENTAS REMAJA
DALAM LINGKARAN SEKENARIO YANG MEMANJA (Buya Ulil)
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
ANGAN ATAU KENYATAAN
RASANYA….
AKU BERADA DALAM GELAP
PEKAT, SUNYI SEPI, HENING PENUH MISTERI
KU MENOLEH KE KANAN
TAK SECERCAH CAHAYA YANG TAMPAK
KU MENOLEH KE KIRI
TAK SEORANGPUN MENYAPA…
AKU BAGAI MUSAFIR ASING
YANG BERDIRI TEGAK DENGAN SATU KAKI
HARUSKAH AKU KEMBALI?
SUDAH JAUH KAKI MELANGKAH
ATAU KU TEROBOS JALAN BUNTU ITU…
ENTAH….
AKU BINGUNG DALAM KESUNYIAN
AKU BIMBANG DALAM KERAMAIAN
RASANYA INGIN KU TETESKAN AIR MATA
DI PANGKUAN SAMUDERA
BERTUMPU HARAP, BUKAN MEREKAYASA
TUHAN ………
HARUSKAH ENGKAU SIRNAKAN HAMBAMU INI
TANPA EKSPRESI DAN KATA-KATA
HARUSKAH AKU JADI LAKON TUA DI PENTAS REMAJA
DALAM LINGKARAN SEKENARIO YANG MEMANJA (Buya Ulil)
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Belajar Sukses dari Konsep '"Harokat"
Renungan 2 (Jum’at, 19 Februari 2016)
Ada apa dengan “Harokat”?
Secara etimologi Harokat mengandung arti gerakan/aktivitas, terdapat ungkapan yang sangat populer di kalangan orang Arab “سِرُّ الْحَيَاةِ الْحَرَكَةُ” artinya “Rahasia kehidupan adalah aktivitas”. Ungkapan tersebut memberikan pengertian bahwa ciri-ciri dasar dalam kehidupan adalah gerak/aktivitas, diartikan juga bahwa sesuatu yang tidak bergerak dapat dikatakan telah memasuki ambang kematian. Manusia yang tidak bergerak akan dikatakan sedang pingsan, stroke, bahkan mati, begitu juga perusahaan atau lembaga pendidikan yang tidak ada aktivitas, tidak dapat dikatakan sebagai perusahaan atau lembaga pendidikan, semuanya akan tampak hanya bangunan dari simbol-simbol tanpa arti.
Kalau kita kaji, begitu juga huruf-huruf dalam bahasa Arab yang ada 28 huruf, tanpa adanya Harokat, semua hanya simbol-simbol dari keindahan seni, tidak ada arti yang dapat dipahami. Harokat menjadikan semuanya memiliki arti dan tujuan. Andaikan Alloh SWT tidak menganugerahkan akal pada manusia untuk memahami adanya Harokat, maka Al-Qur’an dan Hadits tidak akan pernah dipahami, bahkan ucapan manusia pun hanya bunyi suara tanpa makna. Harokat dalam bahasa Arab ada 4, yaitu Dhommah, Fathah, Kasroh, dan Sukun; Dhommah artinya kumpul, karena ketika mengucapkannya, kedua bibir berkumpul, Fathah artinya terbuka, ketika mengucapkannya kedua bibir terbuka, Kasroh artinya pecah, ketika mengucapkannya kedua bibir terpecah, Sukun artinya diam/mati, ketika kita mengucapkannya yang tampak hanya harokat huruf sebelumnya. Pada dasarnya, semua ciptaan Alloh berpasang-pasangan, kalau kita pasangkan semua jenis harokat, menjadi Dhommah (kumpul) berpasangan dengan Fathah (terbuka), Kasroh (Pecah) berpasangan dengan Sukun (mati/stagnan). Pasangan dari semua harokat tersebut memngajarkan kepada kita bahwa setiap perkumpulan (organisasi/lembaga) yang satu visi dan misi (Dhommah) akan dapat membuka (fathah) segala bentuk kemajuan, perkembangan, dan kesuksesan, namun jika perkumpulan mengalami perpecahan (kasroh), tidak satu visi dan misi untuk mencapai tujuan, maka akan mengalami stagnasi/kevakuman (sukun).
Semua huruf membutuhkan harokat, kecuali satu huruf yaitu alif, huruf alif merupakan huruf mandiri yang tidak membutuhkan aksesoris karena alif berfungsi; untuk memanjangkan bacaan huruf yang berharokat (huruf harokat fathah yang ingin berfungsi panjang/maksimal) dan sebagai tempat bagi huruf Hamzah baik di depan, tengah, dan belakang. Alif simbol dari kemandirian (tegak), Kedermawanan, ketulusan, dan keteguhan (mancep teng ngishor, landep teng dhuwur). Huruf alif merupakan salah satu huruf illat (Alif, Wawu, dan Ya’) yang lebih dikenal dengan huruf yang dijadikan alasan dalam pembuangan dan pergantian, namun dalam realitanya (dalam ilmu i’lal) alif tidak pernah mengalami pergantian, yang sering adalah Wawu dan Ya’.
Dalam mejalankan aktivitas, kita membutuhkan alif yang menjadi tempat Hamzah yaitu: إجتهاد (Kesungguhan), إخلاص (Ketulusan), إطمئنان (Ketenangan), dan إستقامة (kesinambungan). Dan untuk menyempurnakan kualitas kerja, kita harus memiliki prinsip kerja sebagaimana berikut: Kerja Giat (الْعَمَلُ بِِالْجِدِّ), Kerja Tuntas (الْعَمَلُ بِالإِتْقَانِ), Kerja Ikhlas (الْعَمَلُ بِالإِخْلاَصِ), Kerja Istiqomah (الْعَمَلُ بِالإِسْتِقاَمَةِ), Kerja Prosedural (الْعَمَلُ بِالنِّظَامِ), Kerja Jujur (الْعَمَلُ بِالصِّدْقِ), dan Kerja BerVisi-Misi (الْعَمَلُ بِِالأَهْدَافِ). Semoga kita menjadi aktivis yang memiliki sifat Rasululloh SAW, yaitu; Shidq (Jujur), Amanah, Fathonah (cerdas), dan Tabligh (menyampaikan perjuangan). Amiin.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Ada apa dengan “Harokat”?
Secara etimologi Harokat mengandung arti gerakan/aktivitas, terdapat ungkapan yang sangat populer di kalangan orang Arab “سِرُّ الْحَيَاةِ الْحَرَكَةُ” artinya “Rahasia kehidupan adalah aktivitas”. Ungkapan tersebut memberikan pengertian bahwa ciri-ciri dasar dalam kehidupan adalah gerak/aktivitas, diartikan juga bahwa sesuatu yang tidak bergerak dapat dikatakan telah memasuki ambang kematian. Manusia yang tidak bergerak akan dikatakan sedang pingsan, stroke, bahkan mati, begitu juga perusahaan atau lembaga pendidikan yang tidak ada aktivitas, tidak dapat dikatakan sebagai perusahaan atau lembaga pendidikan, semuanya akan tampak hanya bangunan dari simbol-simbol tanpa arti.
Kalau kita kaji, begitu juga huruf-huruf dalam bahasa Arab yang ada 28 huruf, tanpa adanya Harokat, semua hanya simbol-simbol dari keindahan seni, tidak ada arti yang dapat dipahami. Harokat menjadikan semuanya memiliki arti dan tujuan. Andaikan Alloh SWT tidak menganugerahkan akal pada manusia untuk memahami adanya Harokat, maka Al-Qur’an dan Hadits tidak akan pernah dipahami, bahkan ucapan manusia pun hanya bunyi suara tanpa makna. Harokat dalam bahasa Arab ada 4, yaitu Dhommah, Fathah, Kasroh, dan Sukun; Dhommah artinya kumpul, karena ketika mengucapkannya, kedua bibir berkumpul, Fathah artinya terbuka, ketika mengucapkannya kedua bibir terbuka, Kasroh artinya pecah, ketika mengucapkannya kedua bibir terpecah, Sukun artinya diam/mati, ketika kita mengucapkannya yang tampak hanya harokat huruf sebelumnya. Pada dasarnya, semua ciptaan Alloh berpasang-pasangan, kalau kita pasangkan semua jenis harokat, menjadi Dhommah (kumpul) berpasangan dengan Fathah (terbuka), Kasroh (Pecah) berpasangan dengan Sukun (mati/stagnan). Pasangan dari semua harokat tersebut memngajarkan kepada kita bahwa setiap perkumpulan (organisasi/lembaga) yang satu visi dan misi (Dhommah) akan dapat membuka (fathah) segala bentuk kemajuan, perkembangan, dan kesuksesan, namun jika perkumpulan mengalami perpecahan (kasroh), tidak satu visi dan misi untuk mencapai tujuan, maka akan mengalami stagnasi/kevakuman (sukun).
Semua huruf membutuhkan harokat, kecuali satu huruf yaitu alif, huruf alif merupakan huruf mandiri yang tidak membutuhkan aksesoris karena alif berfungsi; untuk memanjangkan bacaan huruf yang berharokat (huruf harokat fathah yang ingin berfungsi panjang/maksimal) dan sebagai tempat bagi huruf Hamzah baik di depan, tengah, dan belakang. Alif simbol dari kemandirian (tegak), Kedermawanan, ketulusan, dan keteguhan (mancep teng ngishor, landep teng dhuwur). Huruf alif merupakan salah satu huruf illat (Alif, Wawu, dan Ya’) yang lebih dikenal dengan huruf yang dijadikan alasan dalam pembuangan dan pergantian, namun dalam realitanya (dalam ilmu i’lal) alif tidak pernah mengalami pergantian, yang sering adalah Wawu dan Ya’.
Dalam mejalankan aktivitas, kita membutuhkan alif yang menjadi tempat Hamzah yaitu: إجتهاد (Kesungguhan), إخلاص (Ketulusan), إطمئنان (Ketenangan), dan إستقامة (kesinambungan). Dan untuk menyempurnakan kualitas kerja, kita harus memiliki prinsip kerja sebagaimana berikut: Kerja Giat (الْعَمَلُ بِِالْجِدِّ), Kerja Tuntas (الْعَمَلُ بِالإِتْقَانِ), Kerja Ikhlas (الْعَمَلُ بِالإِخْلاَصِ), Kerja Istiqomah (الْعَمَلُ بِالإِسْتِقاَمَةِ), Kerja Prosedural (الْعَمَلُ بِالنِّظَامِ), Kerja Jujur (الْعَمَلُ بِالصِّدْقِ), dan Kerja BerVisi-Misi (الْعَمَلُ بِِالأَهْدَافِ). Semoga kita menjadi aktivis yang memiliki sifat Rasululloh SAW, yaitu; Shidq (Jujur), Amanah, Fathonah (cerdas), dan Tabligh (menyampaikan perjuangan). Amiin.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Falsafah Guru
Renungan 1 (Kamis, 18 Februari 2016).
"Falsafah GURU"
Sering kita mendengar Kata "GURU" diartikan sebagai Gu (diGugu), RU (ditiRU), tidak jelas sumber istilah itu, namun mempunyai arti yang mendalam yang harus direnungi oleh setiap guru yang bergumul didunia akademik. Arti "digugu" berasal dari bahasa sunda yang diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia yang memiliki arti "dituruti". istilah dituruti lebih menekankan pada aspek ucapan, sehingga memberikan warning kepada guru untuk menjaga ucapannya, harus memilih kalimat yang baik dan tepat sasaran sesuai situasi dan kondisi. Adapun arti "ditiru" lebih menekankan pada sikap (tingkah laku) guru dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dengan atasan, sesama guru, dan anak didiknya (down top-top dwon) karena tingkah laku tersebut akan ditiru oleh anak didiknya.
Efektifitas kedua istilah (digugu dan ditiru) tetap mengacu kepada situasi dan kondisi peserta didik, namun ada ungkapan yang perlu diperhatikan bahwa "لسان الحال أفصح من لسان المقال" artinya "bahasa sikap lebih mengena daripada bahasa ucapan". ungkapan ini menekankan pada internal guru, karena guru yang hanya NATO (No Action, Talk Only) saja, dia akan mengalami pertanggungjawaban yang lebih berat nanti di hari Hisab, sebagaimana Firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 44; (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب، أفلا تعقلون) Artinya "Apakah engkau memerintah orang lain (mengerjakan) kebaikan sedangkan kamu melupakan (kewajiban) mu sendiri padahal kamu membaca kita (mengetahui dan memahami), Apakah kamu tidak berpikir", Kandungan tersebut sangat menegaskan kepada kaum guru untuk lebih intropeksi diri dan lebih "memantaskan" diri sebagai sosok yang menjadi sumber uswah hasanah bagi para peserta didiknya. jika tidak, maka Al-Qur'an telah mensejajarkannya dengan orang yang tidak mempunyai akal dengan kata lain perlu dipertanyakan identitasnya.
Guru bukan hanya sekedar profesi namun juga khidmah, guru bukan hanya berorientasi pada profit namun juga harus pada non profit yang serat akan nilai-nilai perjuangan, guru bukan hanya sekedar mengajar namun juga mendidik untuk terealisasinya Tujuan Pendidikan Nasional.
Sepanjang Sejarah, patut kita akui, kedua Istilah (digugu dan ditiru) tersebut sering kita temukan di dunia pesantren yang kata "guru" lebih populer dengan ungkapan kiai/ustadz/mu'allim dengan sistem pendidikan yang mengedepankan akhlakul karimah sebagai basic aktivitas di dalam lembaga pendidikan. sehingga hasil dari pendidikannya mampu mewujudkan peserta didik yang memiliki kepribadian lebih baik daripada lembaga formal. namun demikian, alangkah baiknya nilai-nilai yang baik yang telah "membumi" di Pesantren kita adopsi di lembaga pendidikan formal sehingga lebih lengkap dan lebih sempurna untuk mewujudkan keseimbangan "fi ad-dini wa ad-dunya wa al-akhiroh". Prinsip
"المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح"
Artinya "berpegang teguh pada tradi klasik yang baik dan mengadopsi tradisi modern yang lebih progresif".
Seorang guru harus memiliki asas guru yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Drs. R.M.P Sostrokartono dengan semboyan :
Ki hajar : "Tut Wuri Handayani (dibelakang mengikuti dengan awas/Pengawas bijaksana)"
Romo Sostro : Ing Ngarsa Sung Tulada (jika di depan jadi contoh/uswatun hasanah), Ing Madya Mangun Karsa (jika ditengah bangkitkan kehendak/motivator). Hidup GURU Sejati!
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
"Falsafah GURU"
Sering kita mendengar Kata "GURU" diartikan sebagai Gu (diGugu), RU (ditiRU), tidak jelas sumber istilah itu, namun mempunyai arti yang mendalam yang harus direnungi oleh setiap guru yang bergumul didunia akademik. Arti "digugu" berasal dari bahasa sunda yang diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia yang memiliki arti "dituruti". istilah dituruti lebih menekankan pada aspek ucapan, sehingga memberikan warning kepada guru untuk menjaga ucapannya, harus memilih kalimat yang baik dan tepat sasaran sesuai situasi dan kondisi. Adapun arti "ditiru" lebih menekankan pada sikap (tingkah laku) guru dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dengan atasan, sesama guru, dan anak didiknya (down top-top dwon) karena tingkah laku tersebut akan ditiru oleh anak didiknya.
Efektifitas kedua istilah (digugu dan ditiru) tetap mengacu kepada situasi dan kondisi peserta didik, namun ada ungkapan yang perlu diperhatikan bahwa "لسان الحال أفصح من لسان المقال" artinya "bahasa sikap lebih mengena daripada bahasa ucapan". ungkapan ini menekankan pada internal guru, karena guru yang hanya NATO (No Action, Talk Only) saja, dia akan mengalami pertanggungjawaban yang lebih berat nanti di hari Hisab, sebagaimana Firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 44; (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب، أفلا تعقلون) Artinya "Apakah engkau memerintah orang lain (mengerjakan) kebaikan sedangkan kamu melupakan (kewajiban) mu sendiri padahal kamu membaca kita (mengetahui dan memahami), Apakah kamu tidak berpikir", Kandungan tersebut sangat menegaskan kepada kaum guru untuk lebih intropeksi diri dan lebih "memantaskan" diri sebagai sosok yang menjadi sumber uswah hasanah bagi para peserta didiknya. jika tidak, maka Al-Qur'an telah mensejajarkannya dengan orang yang tidak mempunyai akal dengan kata lain perlu dipertanyakan identitasnya.
Guru bukan hanya sekedar profesi namun juga khidmah, guru bukan hanya berorientasi pada profit namun juga harus pada non profit yang serat akan nilai-nilai perjuangan, guru bukan hanya sekedar mengajar namun juga mendidik untuk terealisasinya Tujuan Pendidikan Nasional.
Sepanjang Sejarah, patut kita akui, kedua Istilah (digugu dan ditiru) tersebut sering kita temukan di dunia pesantren yang kata "guru" lebih populer dengan ungkapan kiai/ustadz/mu'allim dengan sistem pendidikan yang mengedepankan akhlakul karimah sebagai basic aktivitas di dalam lembaga pendidikan. sehingga hasil dari pendidikannya mampu mewujudkan peserta didik yang memiliki kepribadian lebih baik daripada lembaga formal. namun demikian, alangkah baiknya nilai-nilai yang baik yang telah "membumi" di Pesantren kita adopsi di lembaga pendidikan formal sehingga lebih lengkap dan lebih sempurna untuk mewujudkan keseimbangan "fi ad-dini wa ad-dunya wa al-akhiroh". Prinsip
"المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح"
Artinya "berpegang teguh pada tradi klasik yang baik dan mengadopsi tradisi modern yang lebih progresif".
Seorang guru harus memiliki asas guru yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Drs. R.M.P Sostrokartono dengan semboyan :
Ki hajar : "Tut Wuri Handayani (dibelakang mengikuti dengan awas/Pengawas bijaksana)"
Romo Sostro : Ing Ngarsa Sung Tulada (jika di depan jadi contoh/uswatun hasanah), Ing Madya Mangun Karsa (jika ditengah bangkitkan kehendak/motivator). Hidup GURU Sejati!
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
Langganan:
Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Renungan 4 (Minggu, 21 Februari 2016) Mereka atau kalian yang Miskin? Sebagai perumpamaan, Khalifah Umar bin al-Khattab yang selaku pemimpin...
-
Renungan 3/ edisi puisi (Sabtu, 20 Februari 2016) ANGAN ATAU KENYATAAN RASANYA…. AKU BERADA DALAM GELAP PEKAT, SUNYI SEPI, HENING PENUH MIST...
-
Renungan 6 (Selasa, 23 Februari 2016) PENGAKUAN EMANG…. AKU PERNAH MENGAJAK REMBULAN TUK BERBUAT DOSA DI ATAS AWAN BERANJANGKAN EMAS KAYA...
-
Renungan 1 (Kamis, 18 Februari 2016). "Falsafah GURU" Sering kita mendengar Kata "GURU" diartikan sebagai Gu (diGugu), R...
-
Renungan 5 (Senin, 22 Februari 2016) KEBIMBANGAN HASRAT DI HATI DAN KESEDIHAN BERBAUR DALAM KEINGINAN RASA SAYANG DAN KEBIMBANGAN BER...
-
Renungan 2 (Jum’at, 19 Februari 2016) Ada apa dengan “Harokat”? Secara etimologi Harokat mengandung arti gerakan/aktivitas, terdapat ungkapa...
Recent Posts
Pages
Blog Archive
Diberdayakan oleh Blogger.
