Senin, 22 Februari 2016

Belajar Sukses dari Konsep '"Harokat"

Renungan 2 (Jum’at, 19 Februari 2016)
Ada apa dengan “Harokat”?
Secara etimologi Harokat mengandung arti gerakan/aktivitas, terdapat ungkapan yang sangat populer di kalangan orang Arab “سِرُّ الْحَيَاةِ الْحَرَكَةُ” artinya “Rahasia kehidupan adalah aktivitas”. Ungkapan tersebut memberikan pengertian bahwa ciri-ciri dasar dalam kehidupan adalah gerak/aktivitas, diartikan juga bahwa sesuatu yang tidak bergerak dapat dikatakan telah memasuki ambang kematian. Manusia yang tidak bergerak akan dikatakan sedang pingsan, stroke, bahkan mati, begitu juga perusahaan atau lembaga pendidikan yang tidak ada aktivitas, tidak dapat dikatakan sebagai perusahaan atau lembaga pendidikan, semuanya akan tampak hanya bangunan dari simbol-simbol tanpa arti.
Kalau kita kaji, begitu juga huruf-huruf dalam bahasa Arab yang ada 28 huruf, tanpa adanya Harokat, semua hanya simbol-simbol dari keindahan seni, tidak ada arti yang dapat dipahami. Harokat menjadikan semuanya memiliki arti dan tujuan. Andaikan Alloh SWT tidak menganugerahkan akal pada manusia untuk memahami adanya Harokat, maka Al-Qur’an dan Hadits tidak akan pernah dipahami, bahkan ucapan manusia pun hanya bunyi suara tanpa makna. Harokat dalam bahasa Arab ada 4, yaitu Dhommah, Fathah, Kasroh, dan Sukun; Dhommah artinya kumpul, karena ketika mengucapkannya, kedua bibir berkumpul, Fathah artinya terbuka, ketika mengucapkannya kedua bibir terbuka, Kasroh artinya pecah, ketika mengucapkannya kedua bibir terpecah, Sukun artinya diam/mati, ketika kita mengucapkannya yang tampak hanya harokat huruf sebelumnya. Pada dasarnya, semua ciptaan Alloh berpasang-pasangan, kalau kita pasangkan semua jenis harokat, menjadi Dhommah (kumpul) berpasangan dengan Fathah (terbuka), Kasroh (Pecah) berpasangan dengan Sukun (mati/stagnan). Pasangan dari semua harokat tersebut memngajarkan kepada kita bahwa setiap perkumpulan (organisasi/lembaga) yang satu visi dan misi (Dhommah) akan dapat membuka (fathah) segala bentuk kemajuan, perkembangan, dan kesuksesan, namun jika perkumpulan mengalami perpecahan (kasroh), tidak satu visi dan misi untuk mencapai tujuan, maka akan mengalami stagnasi/kevakuman (sukun).
Semua huruf membutuhkan harokat, kecuali satu huruf yaitu alif, huruf alif merupakan huruf mandiri yang tidak membutuhkan aksesoris karena alif berfungsi; untuk memanjangkan bacaan huruf yang berharokat (huruf harokat fathah yang ingin berfungsi panjang/maksimal) dan sebagai tempat bagi huruf Hamzah baik di depan, tengah, dan belakang. Alif simbol dari kemandirian (tegak), Kedermawanan, ketulusan, dan keteguhan (mancep teng ngishor, landep teng dhuwur). Huruf alif merupakan salah satu huruf illat (Alif, Wawu, dan Ya’) yang lebih dikenal dengan huruf yang dijadikan alasan dalam pembuangan dan pergantian, namun dalam realitanya (dalam ilmu i’lal) alif tidak pernah mengalami pergantian, yang sering adalah Wawu dan Ya’.
Dalam mejalankan aktivitas, kita membutuhkan alif yang menjadi tempat Hamzah yaitu: إجتهاد (Kesungguhan), إخلاص (Ketulusan), إطمئنان (Ketenangan), dan إستقامة (kesinambungan). Dan untuk menyempurnakan kualitas kerja, kita harus memiliki prinsip kerja sebagaimana berikut: Kerja Giat (الْعَمَلُ بِِالْجِدِّ), Kerja Tuntas (الْعَمَلُ بِالإِتْقَانِ), Kerja Ikhlas (الْعَمَلُ بِالإِخْلاَصِ), Kerja Istiqomah (الْعَمَلُ بِالإِسْتِقاَمَةِ), Kerja Prosedural (الْعَمَلُ بِالنِّظَامِ), Kerja Jujur (الْعَمَلُ بِالصِّدْقِ), dan Kerja BerVisi-Misi (الْعَمَلُ بِِالأَهْدَافِ). Semoga kita menjadi aktivis yang memiliki sifat Rasululloh SAW, yaitu; Shidq (Jujur), Amanah, Fathonah (cerdas), dan Tabligh (menyampaikan perjuangan). Amiin.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105
                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar