Senin, 22 Februari 2016

Falsafah Guru

Renungan 1 (Kamis, 18 Februari 2016).
"Falsafah GURU"
Sering kita mendengar Kata "GURU" diartikan sebagai Gu (diGugu), RU (ditiRU), tidak jelas sumber istilah itu, namun mempunyai arti yang mendalam yang harus direnungi oleh setiap guru yang bergumul didunia akademik. Arti "digugu" berasal dari bahasa sunda yang diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia yang memiliki arti "dituruti". istilah dituruti lebih menekankan pada aspek ucapan, sehingga memberikan warning kepada guru untuk menjaga ucapannya, harus memilih kalimat yang baik dan tepat sasaran sesuai situasi dan kondisi. Adapun arti "ditiru" lebih menekankan pada sikap (tingkah laku) guru dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dengan atasan, sesama guru, dan anak didiknya (down top-top dwon) karena tingkah laku tersebut akan ditiru oleh anak didiknya.
Efektifitas kedua istilah (digugu dan ditiru) tetap mengacu kepada situasi dan kondisi peserta didik, namun ada ungkapan yang perlu diperhatikan bahwa "لسان الحال أفصح من لسان المقال" artinya "bahasa sikap lebih mengena daripada bahasa ucapan". ungkapan ini menekankan pada internal guru, karena guru yang hanya NATO (No Action, Talk Only) saja, dia akan mengalami pertanggungjawaban yang lebih berat nanti di hari Hisab, sebagaimana Firman Alloh dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 44; (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب، أفلا تعقلون) Artinya "Apakah engkau memerintah orang lain (mengerjakan) kebaikan sedangkan kamu melupakan (kewajiban) mu sendiri padahal kamu membaca kita (mengetahui dan memahami), Apakah kamu tidak berpikir", Kandungan tersebut sangat menegaskan kepada kaum guru untuk lebih intropeksi diri dan lebih "memantaskan" diri sebagai sosok yang menjadi sumber uswah hasanah bagi para peserta didiknya. jika tidak, maka Al-Qur'an telah mensejajarkannya dengan orang yang tidak mempunyai akal dengan kata lain perlu dipertanyakan identitasnya.
Guru bukan hanya sekedar profesi namun juga khidmah, guru bukan hanya berorientasi pada profit namun juga harus pada non profit yang serat akan nilai-nilai perjuangan, guru bukan hanya sekedar mengajar namun juga mendidik untuk terealisasinya Tujuan Pendidikan Nasional.
Sepanjang Sejarah, patut kita akui, kedua Istilah (digugu dan ditiru) tersebut sering kita temukan di dunia pesantren yang kata "guru" lebih populer dengan ungkapan kiai/ustadz/mu'allim dengan sistem pendidikan yang mengedepankan akhlakul karimah sebagai basic aktivitas di dalam lembaga pendidikan. sehingga hasil dari pendidikannya mampu mewujudkan peserta didik yang memiliki kepribadian lebih baik daripada lembaga formal. namun demikian, alangkah baiknya nilai-nilai yang baik yang telah "membumi" di Pesantren kita adopsi di lembaga pendidikan formal sehingga lebih lengkap dan lebih sempurna untuk mewujudkan keseimbangan "fi ad-dini wa ad-dunya wa al-akhiroh". Prinsip
"المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح"
Artinya "berpegang teguh pada tradi klasik yang baik dan mengadopsi tradisi modern yang lebih progresif".
Seorang guru harus memiliki asas guru yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Drs. R.M.P Sostrokartono dengan semboyan :
Ki hajar : "Tut Wuri Handayani (dibelakang mengikuti dengan awas/Pengawas bijaksana)"
Romo Sostro : Ing Ngarsa Sung Tulada (jika di depan jadi contoh/uswatun hasanah), Ing Madya Mangun Karsa (jika ditengah bangkitkan kehendak/motivator). Hidup GURU Sejati!

Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105


Tidak ada komentar:

Posting Komentar