Senin, 22 Februari 2016

Mereka atau kalian yang Miskin?

Renungan 4 (Minggu, 21 Februari 2016)
Mereka atau kalian yang Miskin?
Sebagai perumpamaan, Khalifah Umar bin al-Khattab yang selaku pemimpin umat waktu itu, ketika menyamar di malam hari untuk mengetahui kondisi rakyatnya, dia menemukan sebuah keluarga yang miskin dalam kelaparan, beliau sendiri yang memanggul sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga itu. Karena Pemerintah yang senantiasa memelihara rakyatnya tidak akan bersenang-senang dan hidup mewah dengan uang rakyat. Sedangkan rakyatnya dalam kelaparan dan penderitaan. Kita tahu bahwa khalifah Umar bin Abdul aziz, ketika dia diangkat menjadi khalifah dia menangis dan bersedih, dan ketika didatangkan kepada beliau kendaraan (unta) yang khusus untuk khalifah. Beliau menolak seraya memerintahkan untuk menjualnya dan hasilnya dimasukkan ke kas Baitul Mal untuk kemaslahatan rakyat yang membutuhkannya (dalam kitab Tarikh al-Khulafa' lil imam As-syuyuthi).
Beda halnya dengan bangsa indonesia, yang konon katanya gemah limpah loh jenawi ini, sekarang tak lebih hanya hisapan jempol belaka. Mulai dari pejabat legislatif, eksekutif , yudikatif sampai pada kaum elitnya semuanya berlomba-lomba mengusulkan kenaikan gaji. Bahkan tidak malu-malunya melakukan KKN, Tanpa memikirkan kaum alitnya; berapa banyak anak-anak jadi pengamen dan putus sekolah, berapa banyak kemiskinan yang menjerat dan menghimpit kehidupan rakyatnya. Sehingga ada kata-kata yang kaya makin bangga dan membusungkan dada dan yang miskin makin miskin dan membusung lapar.
Kemiskinan dan kekayaan pada dasarnya sama dalam pengertian kedua-duanya merupakan batu ujian dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya tidak ada seorang yang dilahirkan kaya atau miskin. Kedua hal itu baru timbul melalui serentetan sebab-musabab. Tidak jarang orang yang lahir ditengah-tengah keluarga yang miskin ditengah pertumbuhannya dia menjadi kaya. Begitu juga tidak jarang orang yang lahir ditengah keluarga yang kaya dalam pertumbuhannya menjadi miskin.
Sebenarnya terdapat petunjuk sebab kemiskinan dari sebuah do'a nabi yang diriwayatkan oleh Anas bin malik yang berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Ya Allah aku mohon lindungilah aku dari kebingungan, kesusahan, kelemahan, kemalasan, kepelitan, ketindihan hutang, dan diperas kuasai oleh sesama manusia
Dalam do'a diatas mengandung hal pokok yang menyebabkan kemiskinan yang memelaratkan dan menyusahkan.
Pertama: Kelemahan; kelemahan hati dan semangat, kelemahan akal dan ilmu atau kelemahan fisik yang semua itu mengurangi daya pilih dan daya upaya manusia untuk berusaha di dunia. Sebagaimana Hadist:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah
Kedua:Kemalasan; tidak diragukan lagi sifat ini merupakan pangkal dari kemiskinan. Karena penataan kehidupan sehari-hari dalam Islam sangat bertentangan dengan hal ini.
Ketiga:Ketakutan; hal ini jelas merupakan penghambat utama untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan khususnya dalam pekerjaan dan usaha. Karena pekerjaan atau tugas banyak tergantung dari keberanian untuk menghadapinya
Keempat: Kepelitan; hal ini banyak besangkutan dengan sikaya, karena dengan sifat ini membantu untuk tidak mengurangi kemiskinan. Dan mnempatkan dirinya untuk dibenci manusia. Katanya imam Sufyan: اي داء ادوء من البخل "penyakit apa yang lebih sangat daripada pelit"
Kelima:Tertindih hutang; karena hutang sangat membelenggu kebebasan hak didunia dan akhirat. Apalagi orang yang sudah terbiasa dengan membiayai hidupnya dengan utang-utang akan sulit sekali mengangkatnya dari lumpur kemiskinan
Keenam: diperas atau dikuasai sesama manusia; hal ini merupakan penyebab timbulnya banyak penderitaan dan kemelaratan. Pemerasan manusia kuat menimbulkan sistem perbudakan, pemerasan manusia kaya menimbulkan sistem riba, dan pemerasan pada masyarakat dan bangsa dapat menimbulkan sistem kapitalisme yang akan bekembang menjadi emperialisme. ‪
M au
I ndah
S uka
K kn
I ngkar
N abi
Miskin sebenarnya adalah miskin Iman dan Taqwa.
Ulil Absor, M.Pd.I (Khodimul Ma’had Al-Bayyinah)
Hp/WA. 085755400105

Tidak ada komentar:

Posting Komentar